Duka Belum Usai, Keluarga Korban Diduga Kecelakaan Kerja Hadapi Ancaman Putus Sekolah; IMF Desak Perusahaan dan Pemerintah Bertindak.

SekilasLampung – Duka yang dialami Wiwit, seorang ibu rumah tangga di Lampung, belum juga berakhir. Setelah kehilangan suaminya yang diduga meninggal dunia akibat kecelakaan kerja, ia kini harus berjuang seorang diri menghidupi tiga anaknya di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat.
Menurut keterangan keluarga, hingga saat ini mereka mengaku belum memperoleh penyelesaian maupun bentuk tanggung jawab yang dinilai layak dari perusahaan tempat almarhum bekerja. Kondisi tersebut, menurut keluarga, membuat mereka harus menghadapi kesulitan ekonomi setelah kehilangan sosok pencari nafkah utama.
Persoalan yang dihadapi keluarga tidak hanya menyangkut pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Salah satu anak Wiwit kini disebut terancam tidak dapat melanjutkan pendidikan di sekolah negeri karena keterbatasan biaya. Program Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang diharapkan dapat membantu pembiayaan pendidikan disebut belum mampu menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi.
Kondisi tersebut mendapat perhatian Ketua Integrity Media Forum (IMF), Indra Segalo Galo. Menurutnya, kasus ini tidak boleh dipandang semata sebagai musibah keluarga, tetapi juga sebagai persoalan kemanusiaan yang membutuhkan perhatian berbagai pihak.
“Ketika seorang pekerja meninggal dalam kecelakaan kerja, yang menjadi korban bukan hanya dirinya, tetapi juga istri dan anak-anak yang ditinggalkan. Jangan sampai setelah kehilangan suami, seorang ibu kembali dipaksa kehilangan masa depan anak-anaknya karena persoalan ekonomi,” ujar Indra.
Ia meminta perusahaan tempat almarhum bekerja memberikan penjelasan secara terbuka apabila masih terdapat hak-hak pekerja maupun kewajiban lain yang belum diselesaikan. Menurutnya, transparansi dan penyelesaian yang adil merupakan bagian dari tanggung jawab moral maupun hukum apabila memang terdapat kewajiban yang harus dipenuhi.
Selain kepada perusahaan, Indra juga mendesak pemerintah daerah, instansi yang membidangi ketenagakerjaan, serta dinas pendidikan agar segera mengambil langkah konkret untuk memastikan hak pendidikan anak-anak korban tetap terpenuhi.
“Negara hadir bukan hanya saat membuat regulasi, tetapi juga ketika rakyat menghadapi situasi paling sulit. Jangan biarkan seorang ibu berjuang sendirian setelah kehilangan suaminya. Jangan biarkan anak-anak menjadi korban kedua dari sebuah tragedi,” tegasnya.
IMF menyatakan akan terus mengawal perkembangan kasus tersebut hingga terdapat kejelasan mengenai pemenuhan hak-hak keluarga almarhum serta memastikan anak-anak Wiwit tetap memperoleh akses pendidikan.
Di balik persoalan ini, tersimpan potret kehidupan yang memprihatinkan. Seorang ibu yang masih berduka harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup ketiga anaknya sekaligus mempertahankan harapan agar mereka tetap dapat mengenyam pendidikan.
Catatan Redaksi: Berita ini disusun berdasarkan keterangan pihak keluarga dan pernyataan Ketua Integrity Media Forum (IMF). Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat keterangan resmi dari pihak perusahaan terkait maupun instansi pemerintah yang berwenang. Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi dari seluruh pihak sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.(P)
Post Comment