29 Tahun Mencari Orang Tua Kandung, Dewi Berharap Jejak Keluarga Terungkap Lewat TikTok

29 Tahun Mencari Orang Tua Kandung, Dewi Berharap Jejak Keluarga Terungkap Lewat TikTok

Sekilaslampung.online / PALEMBANG — Sebuah kisah pencarian keluarga menyentuh perhatian publik. Selama hampir tiga dekade, Dewi Niyasari masih menyimpan satu keinginan yang belum terwujud: mengetahui keberadaan serta identitas orang tua kandungnya.

 

Dewi, yang kini tinggal di Bandar Lampung, mengaku lahir di Palembang pada 1997. Sejak masih kecil, ia diadopsi dan kemudian dibesarkan oleh orang tua angkatnya di Bandar Lampung.

 

Kini, kedua orang tua angkat yang selama ini merawat dan membesarkannya telah meninggal dunia. Kondisi tersebut membuat keinginan Dewi untuk menelusuri asal-usul keluarganya kembali menguat.

 

Ia pun mencoba membuka kembali jejak masa lalu melalui media sosial, termasuk TikTok, dengan harapan informasi mengenai keluarganya dapat ditemukan dari masyarakat yang mengenali kisah tersebut.

 

Menurut keterangan yang diterima Dewi, orang tua kandungnya disebut bernama Mega dan Toni, dengan salah satu di antaranya disebut dikenal dengan nama Ahok. Keluarga tersebut diduga pernah tinggal di wilayah Ilir 5 atau Ilir 7, Palembang.

 

Namun, informasi mengenai nama maupun lokasi tersebut hingga kini masih sebatas keterangan yang dimiliki Dewi dan belum dapat dipastikan kebenarannya secara independen.

 

“Saya tidak mencari apa-apa. Saya hanya ingin tahu siapa orang tua kandung saya, dan ingin melihat wajah mereka,” ungkap Dewi dalam pesan yang disebarkannya melalui media sosial.

 

Berharap Bantuan Warga Palembang

 

Pencarian yang dilakukan Dewi bukan untuk mencari harta ataupun kepentingan materi. Ia mengaku hanya ingin mendapatkan kepastian mengenai asal-usul dirinya serta mengetahui bagaimana kondisi orang tua kandungnya saat ini.

 

Karena itu, Dewi berharap masyarakat Palembang yang pernah tinggal atau mengenal lingkungan Ilir 5 dan Ilir 7 dapat membantu memberikan informasi apabila mengetahui keluarga dengan nama atau ciri yang disebutkan tersebut.

 

Menurutnya, informasi sekecil apa pun dapat menjadi petunjuk untuk membuka kembali mata rantai keluarga yang selama ini terputus.

 

Ia juga meminta masyarakat yang memiliki informasi untuk menyampaikannya melalui kolom komentar atau pesan pribadi pada akun media sosial yang digunakan dalam pencarian tersebut.

 

Media Sosial Jadi Harapan Baru

 

Di tengah keterbatasan informasi yang dimiliki, media sosial menjadi salah satu sarana yang dipilih Dewi untuk memperluas pencarian.

 

Video yang diunggah melalui TikTok diharapkan dapat menjangkau warga Palembang, khususnya mereka yang pernah tinggal di kawasan Ilir 5 dan Ilir 7 atau memiliki hubungan dengan keluarga yang disebut dalam informasi tersebut.

 

Bagi Dewi, satu unggahan yang dibagikan kembali oleh masyarakat bisa saja membuka jalan menuju seseorang yang selama ini tidak diketahuinya keberadaannya.

 

Namun, pencarian keluarga melalui media sosial juga membutuhkan kehati-hatian. Setiap informasi mengenai identitas seseorang perlu diverifikasi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman ataupun merugikan pihak lain.

 

Karena itu, masyarakat yang merasa memiliki informasi mengenai keluarga Dewi diharapkan menyampaikannya secara bijak dan tidak menyebarluaskan data pribadi yang bersifat sensitif tanpa persetujuan pihak terkait.

 

Setelah 29 tahun menyimpan pertanyaan tentang asal-usulnya, Dewi kini hanya berharap pencarian sederhana tersebut dapat berujung pada satu hal yang selama ini dinantikannya: pertemuan dengan orang tua kandung.

 

Bagi Dewi, mengetahui siapa mereka dan melihat wajah mereka mungkin sudah lebih dari cukup untuk menjawab penantian panjang selama hampir tiga dekade.

 

Jika ada warga Palembang, khususnya yang mengenal lingkungan Ilir 5 atau Ilir 7, yang memiliki informasi relevan mengenai keluarga yang disebut dalam pencarian ini, informasi dapat disampaikan langsung kepada Dewi melalui akun media sosial yang digunakan dalam pencarian.(**)

Post Comment

You May Have Missed