Tembok Belakang RS Airan Raya Roboh, Banjir Rendam Permukiman Warga

Lampung Selatan (Sekilas Lampung), 15 Maret 2026 – Hujan deras yang mengguyur wilayah sekitar Rumah Sakit Airan Raya di Desa Way Hui, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, menyebabkan tembok pagar belakang rumah sakit roboh dan memicu banjir yang merendam sejumlah permukiman warga di sekitarnya.
Peristiwa tersebut terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut dalam beberapa waktu. Air yang meluap diduga berasal dari aliran air di area sekitar rumah sakit yang tidak tertampung oleh sistem drainase, sehingga mengarah ke permukiman warga yang berada di bagian belakang rumah sakit.
Warga setempat menyebut robohnya tembok pagar belakang rumah sakit bukanlah kejadian pertama. Menurut mereka, peristiwa serupa telah beberapa kali terjadi sebelumnya, terutama saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
“Sebelumnya sudah dua kali roboh, dan sekarang kejadian lagi. Kalau hujan besar, air dari arah rumah sakit itu meluap,” ujar seorang warga yang ditemui di lokasi kejadian.
Akibat meluapnya air tersebut, sejumlah rumah warga dilaporkan terendam banjir. Air bahkan masuk hingga ke dalam rumah, menyebabkan berbagai perabotan rumah tangga menjadi basah dan sebagian mengalami kerusakan.
Salah seorang warga yang terdampak banjir bahkan terpaksa meninggalkan rumahnya untuk sementara waktu karena kondisi rumah yang tidak memungkinkan untuk ditempati. Ia memilih mengungsi ke rumah orang tuanya hingga kondisi rumahnya kembali normal.
“Rumahnya kerendam semua, barang-barang basah. Akhirnya dia pindah dulu ke rumah orang tuanya,” ungkap warga lainnya.
Selain merendam permukiman warga, air banjir juga dilaporkan sempat masuk hingga ke bagian bawah area rumah sakit. Kondisi tersebut diduga terjadi akibat aliran air yang tidak lancar pada saluran drainase di sekitar lokasi.
Warga menilai banjir yang terjadi juga dipengaruhi oleh kondisi saluran air atau parit di lingkungan tersebut yang tidak berfungsi dengan baik. Saluran drainase yang tidak mampu mengalirkan air secara optimal menyebabkan air tertahan dan akhirnya meluap hingga masuk ke kawasan permukiman.
Sejumlah warga juga menyoroti pembangunan saluran drainase yang disebut-sebut dilakukan oleh pihak rumah sakit dengan panjang sekitar 600 meter. Namun, beberapa warga mengaku tidak mengetahui secara pasti mengenai pembangunan tersebut maupun dampaknya terhadap sistem aliran air di lingkungan mereka.
Selain persoalan banjir, warga juga mempertanyakan informasi mengenai adanya program pengobatan gratis bagi sekitar 300 warga sekitar melalui kepesertaan BPJS Kesehatan yang disebut dibiayai oleh pihak rumah sakit.
Beberapa warga mengaku tidak pernah mendapatkan informasi terkait program tersebut. Bahkan salah satu warga bernama Zubaidah mengaku dirinya tetap harus membayar biaya pengobatan ketika berobat ke rumah sakit tersebut.
“Saya kemarin berobat tetap bayar, tidak ada informasi soal gratis,” kata Zubaidah.
Warga juga menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada bentuk tanggung jawab maupun bantuan dari pihak rumah sakit terkait dampak banjir yang merendam rumah mereka. Meski demikian, pihak kelurahan disebut telah melakukan peninjauan langsung serta pendataan terhadap warga yang terdampak banjir.
“Sudah didata banjirnya, tapi belum ada bantuan atau tanggung jawab dari rumah sakit,” ujar salah seorang warga.
Akibat banjir tersebut, sejumlah peralatan rumah tangga hingga kendaraan milik warga dilaporkan mengalami kerusakan karena terendam air. Warga berharap adanya perhatian serta solusi dari pihak terkait, khususnya dalam perbaikan sistem drainase agar kejadian serupa tidak terus berulang di kemudian hari.
Klarifikasi Manajemen RS Airan Raya
Menanggapi berbagai informasi yang beredar di masyarakat dan media sosial terkait penyebab banjir, manajemen RS Airan Raya memberikan klarifikasi bahwa peristiwa tersebut tidak sepenuhnya disebabkan oleh aktivitas rumah sakit.
Klarifikasi tersebut disampaikan pihak Humas RS Airan Raya kepada awak media pada Kamis (12/3/2026) sekitar pukul 14.30 WIB di ruang tamu Humas rumah sakit.
Dalam keterangannya, pihak manajemen menilai informasi yang beredar di media sosial cenderung tendensius dan tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan.
Pihak rumah sakit menjelaskan bahwa banjir yang terjadi pada 6 Maret 2026 dipicu oleh curah hujan dengan intensitas tinggi yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Lampung. Dampak hujan deras tersebut tidak hanya dirasakan di Desa Way Hui, Kecamatan Jati Agung, tetapi juga terjadi di beberapa wilayah lain di Kabupaten Lampung Selatan hingga Kota Bandar Lampung.
Menurut pihak manajemen, aliran air yang masuk ke permukiman warga tidak semata-mata berasal dari kawasan rumah sakit. Air hujan disebut datang dari berbagai arah di wilayah sekitar yang kemudian berkumpul di titik-titik rendah, termasuk di kawasan permukiman warga.
Kondisi tersebut diperparah oleh sistem drainase di lingkungan permukiman yang dinilai belum berfungsi secara optimal. Bahkan di beberapa titik di sepanjang Jalan Airan Raya disebut belum memiliki saluran drainase yang memadai.
“Akibat kondisi tersebut, aliran air dari lingkungan sekitar justru mengarah ke area RS Airan Raya, termasuk masuk ke dalam sistem drainase atau selokan pembuangan yang berada di lingkungan rumah sakit,” jelas pihak manajemen.
Namun karena volume air yang sangat besar saat hujan deras, saluran drainase yang ada tidak mampu menampung seluruh aliran air sehingga menimbulkan genangan yang berdampak baik pada lingkungan rumah sakit maupun permukiman warga di sekitarnya.
Manajemen RS Airan Raya juga menyampaikan bahwa sejak tahap pembangunan hingga mulai beroperasi, pihaknya telah melakukan berbagai upaya antisipasi terhadap potensi banjir. Salah satunya dengan membangun saluran drainase sepanjang kurang lebih 621 meter di luar area rumah sakit yang mengarah hingga ke anak Sungai Way Hui.
Saluran drainase tersebut dibangun di atas lahan milik warga yang secara sukarela mengikhlaskan sebagian tanahnya untuk digunakan sebagai jalur pembangunan saluran air.
Meski demikian, tingginya intensitas hujan pada saat kejadian, ditambah kondisi pendangkalan serta penyempitan aliran sungai di wilayah sekitar, menyebabkan debit air yang mengalir tidak dapat tertampung secara maksimal, termasuk oleh drainase yang telah dibangun pihak rumah sakit.
Selain itu, RS Airan Raya juga menyampaikan bahwa pihaknya memiliki sejumlah program kepedulian sosial bagi masyarakat di sekitar rumah sakit. Salah satunya adalah penyediaan kuota kepesertaan BPJS Kesehatan bagi sekitar 300 warga yang tinggal di sekitar area rumah sakit, dengan premi yang dibayarkan oleh pihak rumah sakit setiap bulan sejak tahun 2019.
Manajemen RS Airan Raya juga menyampaikan empati kepada seluruh warga yang terdampak banjir, baik yang berada di wilayah Lampung Selatan maupun Kota Bandar Lampung.
Pihak rumah sakit berharap peristiwa ini dapat menjadi bahan evaluasi bersama bagi seluruh pihak agar lebih peduli terhadap kondisi lingkungan, khususnya dalam pengelolaan sistem drainase serta aliran air di kawasan permukiman. Selain itu, RS Airan Raya juga berharap pemerintah daerah dapat mencari solusi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan guna mencegah terjadinya banjir serupa di masa mendatang. (Aly)
Post Comment