Riuh Ucapan di Grup IJP Lampung, Hangatnya Solidaritas di Hari Lahir “Sang CEO”

Riuh Ucapan di Grup IJP Lampung, Hangatnya Solidaritas di Hari Lahir “Sang CEO”

Sekilas Lampung — Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai grup percakapan Ikatan Jurnalis Pemprov (IJP) Lampung pada Kamis malam (2/4/2026). Notifikasi ponsel para anggota grup tersebut tak henti berbunyi, bukan karena peristiwa besar atau isu hangat, melainkan momen sederhana yang sarat makna: perayaan ulang tahun salah satu anggotanya, Irlan P Kartadilaga.

 

Di tengah rutinitas dunia jurnalistik yang dikenal dinamis, penuh tekanan, dan dikejar tenggat waktu, ruang obrolan digital itu seketika berubah menjadi wadah kebersamaan. Ucapan selamat ulang tahun (HBD), doa panjang umur, hingga candaan khas antar rekan kerja mengalir deras tanpa jeda, menciptakan suasana hangat yang jarang terlihat di tengah kesibukan profesi.

 

Beragam pesan bernuansa doa dan humor pun menghiasi percakapan. Mulai dari harapan kesehatan dan keberkahan, hingga gurauan yang mencerminkan kedekatan antaranggota. Salah satu rekan menuliskan doa agar yang berulang tahun senantiasa sehat dan diberkahi, sementara yang lain menimpali dengan candaan unik tentang kejayaan di berbagai “medan”, yang langsung disambut tawa virtual melalui emoji.

 

Momen tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antarjurnalis di lingkungan IJP Lampung tidak sekadar bersifat profesional. Lebih dari itu, telah terjalin ikatan emosional layaknya keluarga besar yang saling mendukung dan menguatkan satu sama lain.

 

Irlan P Kartadilaga, yang akrab dijuluki “CEO” oleh rekan-rekannya, turut merespons ucapan tersebut dengan gaya santai dan penuh humor. Dalam balasannya, ia menyampaikan rasa terima kasih sembari melontarkan candaan ringan yang mengundang gelak tawa anggota grup.

 

Ketika disinggung mengenai usianya, Irlan kembali menunjukkan sisi humornya dengan menyebut dirinya masih berusia “17 tahun”, yang langsung disambut gurauan balasan dari rekan-rekan lainnya. Interaksi tersebut semakin menegaskan eratnya hubungan tanpa sekat di antara mereka.

 

Di balik suasana penuh canda, terselip doa-doa tulus dari para anggota. Harapan akan kesehatan, kelancaran rezeki, dan kesuksesan terus mengalir, menjadi bukti bahwa solidaritas di kalangan insan pers tidak hanya terbangun dalam kerja profesional, tetapi juga dalam kehidupan personal.

 

Peristiwa sederhana ini menjadi potret kecil kehidupan jurnalis di lampung. Di tengah derasnya arus informasi dan tuntutan pekerjaan yang tinggi, mereka tetap menjaga nilai-nilai humanis—saling menyapa, berbagi kebahagiaan, serta merawat kebersamaan.

 

Bagi para jurnalis tersebut, berita mungkin datang dan pergi setiap hari. Namun persahabatan dan solidaritas, seperti yang tercermin dalam momen itu, akan terus tumbuh dan menjadi kekuatan dalam menjalani perjalanan panjang di dunia jurnalistik(p)

Post Comment

You May Have Missed