Panggung Fotobooth di SMKN 4 Bandar Lampung Roboh Saat Dokumentasi Foto Angkatan, Sejumlah Siswa Terluka.

Panggung Fotobooth di SMKN 4 Bandar Lampung Roboh Saat Dokumentasi Foto Angkatan, Sejumlah Siswa Terluka.

Sekilas Lampung — Insiden robohnya panggung fotobooth terjadi saat kegiatan dokumentasi foto angkatan siswa kelas XII di SMK Negeri 4 bandar lampung pada Jumat pagi (13/2/2026). Peristiwa tersebut mengakibatkan sejumlah siswa mengalami cedera, bahkan satu siswa mengalami patah tulang dan harus menjalani perawatan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan inisiatif siswa sebagai bagian dari dokumentasi kenangan akhir masa sekolah atau class memory. Para siswa sebelumnya telah mengajukan izin kepada pihak sekolah untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut, termasuk penyediaan panggung fotobooth sebagai sarana dokumentasi.

Menurut Thomas, insiden terjadi akibat kapasitas panggung yang tidak sesuai dengan jumlah siswa yang naik secara bersamaan. Struktur panggung yang seharusnya disusun bertingkat justru dijadikan satu hamparan sehingga tidak mampu menahan beban berlebih.

“Secara kapasitas tidak sesuai. Seharusnya bertingkat, tetapi dijadikan satu. Dalam euforia kegiatan, siswa mungkin tidak memahami SOP sehingga terjadi insiden,” ujarnya saat diwawancarai media Sekilas Lampung pada Kamis (26/2/2026) sekitar pukul 14.05 WIB.

Saat kejadian, banyak siswa naik ke atas panggung secara bersamaan sehingga beban yang melebihi daya dukung konstruksi menyebabkan panggung roboh. Runtuhan panggung menimpa sejumlah siswa yang berada di atas maupun di sekitar lokasi.

Pihak sekolah segera melakukan penanganan dengan mengevakuasi para siswa yang terluka ke rumah sakit. Orang tua siswa juga langsung dihubungi dan diberikan penjelasan mengenai kondisi anak-anak mereka.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMKN 4 Bandar Lampung, Azizah, menjelaskan bahwa para korban langsung mendapatkan penanganan medis setelah kejadian. Sebagian besar siswa yang mengalami luka telah kembali bersekolah.

“Semua sudah ditangani. Anak-anak yang terluka langsung dievakuasi ke rumah sakit, diobati, dan hari itu juga sebagian sudah diperbolehkan pulang. Sekarang mereka sudah berangsur sehat dan kembali sekolah,” ujarnya saat diwawancarai pada jumat, (27/2/2026) sekitar pukul 10.30 WIB.

Korban pertama kali dibawa ke Rumah Sakit Hermina untuk mendapatkan perawatan. Dari tujuh siswa yang sempat menjalani penanganan medis, satu siswa mengalami patah tulang dan masih dalam tahap pemulihan, sementara siswa lainnya mengalami dislokasi serta luka ringan.

Pihak sekolah memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan yang diperlukan. Bahkan, biaya pengobatan para siswa disebut turut dibantu oleh kepala sekolah.

“Begitu kejadian kami langsung membawa korban ke rumah sakit dan mengurus semuanya. Setelah itu mereka diantar pulang bersama orang tuanya,” jelas Azizah.

Ia juga menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan acara perpisahan resmi sekolah, melainkan dokumentasi foto angkatan yang merupakan inisiatif para siswa. Fasilitas panggung yang digunakan dalam kegiatan tersebut juga merupakan sewaan yang dikelola oleh siswa.

“Ini kegiatan mereka sendiri, dananya dari siswa, sewa panggung juga mereka yang mengelola. Saat itu masih tahap uji coba, kemungkinan ada papan yang pemasangannya kurang pas sehingga panggung menjadi timpang,” terangnya.

Sementara itu, Thomas Amirico juga meluruskan informasi yang sempat beredar terkait penggunaan tali rafia pada konstruksi panggung. Ia menegaskan bahwa tidak ada penggunaan tali rafia dalam struktur tersebut. Menurutnya, penyebab utama robohnya panggung adalah kelebihan kapasitas serta tidak optimalnya penerapan prosedur standar operasional (SOP).

“Kalau kapasitasnya 50 orang tetapi dinaiki 100 orang tentu tidak kuat. Ini murni musibah, namun tetap menjadi evaluasi karena SOP tidak dijalankan secara maksimal,” tegasnya.

Untuk siswa yang mengalami patah tulang, pihak sekolah memberikan kebijakan khusus agar tetap dapat mengikuti proses pembelajaran selama masa pemulihan.

“Kami beri kebijaksanaan. Bahkan anaknya sangat semangat ingin sekolah, tetapi kami minta fokus pemulihan terlebih dahulu. Pembelajaran bisa dilakukan secara daring,” kata Azizah.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung menegaskan bahwa insiden ini akan menjadi bahan evaluasi penting dalam penyelenggaraan kegiatan siswa di lingkungan sekolah. Ke depan, setiap kegiatan diharapkan lebih memperhatikan aspek keselamatan, kapasitas fasilitas, serta mitigasi risiko.

Meski sempat menimbulkan kekhawatiran, kondisi para siswa saat ini dilaporkan terus membaik dan aktivitas belajar mengajar di sekolah kembali berjalan normal.

Post Comment

You May Have Missed